Senin, 24 Desember 2012

poem #10



Aku tak tahu apa yang harus aku pilih
Tetap bertahan untuknya atau merelakannya pergi

Begitu ingin bertahan untuknya
Karena bersamanya aku merasa bahagia
dan dengan melihatnya hari-hariku bermakna
Tapi ….
hati ini juga begitu ingin meyerah terhadapnya
Bukan karna tak mencintainya lagi
Tapi karna takut dia lebih bahagia bersama dia
Dia yang dicintainya....
Bukan denganku....

aku tak tahu siapa
siapa “dia” yang dicintainya
aku bertanya-tanya kepada semua orang
tapi tak mendapatkan jawaban
seharusnya bertanya padanya
tapi tak berani tuk bertanya
karna takut tuk mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya
takut kalau yang keluar dari mulutnya adalah “aku mencintainya”

aku tak tahu harus bagaimana
bahagia atau sedih melihatnya bersama dia
aku bahagia karna melihatnya bahagia
tapi hati ini juga bersedih melihatnya
bersedih karna dia bahagia bukan denganku

aku tak tahu bagaimana akhirnya nanti
apa yang akan terjadi apabila aku tetap bertahan untuknya
dan apa yang akan terjadi apabila aku menyerah terhadapnya
mungkinkah dia akan mencintaiku juga??
mungkinkah “dia” itu aku??
mungkinkah aku bisa membuatnya bahagia??
Aku benar-benar tak tahu

yang akau tahu sekarang adalah
hal yang paling sulit dimengerti
bukanlah soal matematika atau fisika
tapi soal hati dan takdir ilahi

Minggu, 16 Desember 2012

Mata hati

bunga kecil diterpa angin
terombang-ambing tanpa arah
menggugurkan sedikit demi sedikit mahkotanya
melunglaikan sedikit demi sedikit pertahanannya
membuat lirih hati melihatnya

begitu kerasnya bunga itu bertahan
membuat kesal kepada si akar
dengan tenang tanpa merasakan gelisah
dibawah tanah tanpa derita
tak tahu bunga diterpa angin kencang diatas sana
sedih melihat bunga yang semakin lama semakin melemah
semakin meradanglah kepada si akar
dalam diam tanpa goncangan
tiada merasa beban dipundak

hanya melihat dengan mata
maka meradanglah pada si akar
tapi pernakah mencoba melihat dengan hati
begitu kerasnya akar mempertahankan bunga akar tak mati
begitu kuat bertahan demi sang bunga
hingga seperti tiada telinga mendengar maki
bertahan tubuh dan menahan hati demi sang bunga
agar tetap hidup dan dipuja orang
agar tak mati dan diinjak orang
tetap bertahan walau begitu ingin menyerah
mendengar maki tiada henti hanya tertuju pada diri
menahan hati melihat diri, tiada yang peduli
bahwa badai besar menerpa tubuh ini

adakah yang pernah melihat seperti itu?
melihat lebih dalam lagi menggunakan mata hati
tidak hanya melihat dari sisi yang tersakiti
dan tak melihat dari sisi yang menyakiti
tak selamnya apa yang dilihat menggunakan mata  adalah fakta
karna mata tak bisa melihat yang ada didalam hati
tak selamanya diam tak bernurani
tapi hanya menunggu dalam sepi
akankah ada yang memahami

indah permata sari

poem #9

Baru aku sadari bahwa mencintaimu
bagaikan menghadapi matahari
semakin aku mendekatinya
maka semakin tersa panas membakar kulit

semakin aku ingin melihatnya lebih lama
maka semakin silau menyakitkan mata
semakin lama aku bertahan menghadapinya
maka semakin lemas sekujur tubuh karnanya

semua yang kulakukan, hanya menyakiti diri sendiri
sudah tahu akan terluka
tetapi tetap saja dilakukan
mengapa menjadi orang yang begitu bodoh?
mencoba mendekati matahari yang begitu panas
mencoba melihat sinar matahari yang menyilaukan
dan pada akhirnya menyalahkan matahari atas segala hal
bahwa semua sakit dan derita timbul karnanya

tapi... apakah salah matahari apabila ia panas??
apakah salah matahari apabila sinarnya menyilaukan??
haruskah meminta angin tuk menghembuskan nasehat??
bahwa semua yg dilakukannya adalah karna diri sendiri
yg dengan bodohnya melakukan hal itu terus menerus
haruskah meminta petir gemuruh tuk menyadarkan??
bahwa ia telah menggunakan cara yang salah untuk menghadapi matahari
dengan mencoba mendekatinya
haruskah memnita awan tuk turunkan hujan agar memahami??
bahwa cara yang benar menghadapi matahari
ialah dengan berteduh dan menjauh
berteduh dari teriknya sinar matahari
dan hanya merasakan hangat sinarnya
menjauh sejauh mungkin
hingga sinarnya tak membakar kulit
dan meminta air tuk menuntunya berbalik arah
agar jangan menyiksa diri dengan menghadapi matahari



Minggu, 02 Desember 2012

poem #8

apa yang aku lakukan saat ini
seperti menulis menggunakan kapur
diatas papan tulis putih
melakukan hal yang nyata tapi tak kasat mata
seperti tak menulis apa-apa diatas sana
hanya menggerakkan tangan tanpa tujuan
jika aku tanyakan padamu apa yang aku tulis
maka kau akan menjawab "kau tak menulis apapun"
tapi jelas-jelas aku menulis sesuatu disana
kau hanya berpura-pura tidak tahu atau memang tak tahu?
kau mau membohongiku atau mau membohongi dirimu sendiri?

aku terdiam dan berpikir
mereka-reka apa yang kau pikir
apakah aku seperti orang bodoh bagimu?
atau aku seperti jalan setapak yang terabaikan olehmu?

apa yang aku lakukan saat ini
seperti mengangkut air dengan ember bocor
aku merasakan beratnya tapi aku tak bisa menikmati sejuk airnya
hanya mendapatkan lelah tiada terkira
jika aku tanyakan padamu apa yang aku bawa
maka kau akan mejawab "kau tak membawa apapun"
tapi jelas-jelas kau melihat aku kelelahan
kau hanya main-main denganku atau benar ingin mempermainkanku?

oh jadi kau adalah orang yang seperti itu
melihat dengan matamu
dan hanya dengan itu

beribu usaha yang aku lakukan
maka yang kau tahu hanyalah aku tak melakukan apapun
karena segala yang aku lakukan
adalah sesuatu yang tak bisa kau lihat
kau tak bisa melihatnya
karna kau hanya melihat apa yang terlihat
dan menutup mata pada yang tersirat

apa yang aku lakukan saat ini
bukanlah untukmu
karena yang aku lakukan saat ini
adalah jalan untuk menemukan dia
menemukan dia yang memahamii
dan kau adalah pengecoh
pengecoh yang berada di jalanku menuju dia
tapi kau adalah jembatanku menuju dia
karna bertemu denganmu membuatku tahu
kalau kau bukanlah dia, kalau kau orang yang salah
yang menuntunku menuju dia

 (indah permata sari)